Sistem Informasi Desa Purbadana

Legenda Desa Purbadana

Pada zaman dahulu kala, ketika kerajaan-kerajaan besar masih berdiri kokoh di tanah Jawa, hiduplah masyarakat yang tunduk pada titah raja dan menjaga kehormatan negeri dengan sepenuh jiwa. Di sebuah wilayah subur yang dialiri sungai jernih dan dikelilingi hutan lebat, datanglah utusan kerajaan berslempang kuning. Slempang kuning itu menjadi lambang kesetiaan dan amanah. Mereka ditugaskan menjaga harta benda kerajaan—hasil upeti dari daerah taklukan serta rampasan perang yang diperoleh dari medan laga. Dengan penuh tanggung jawab, pasukan kuning membangun tempat penyimpanan yang tersembunyi di dekat sungai. Siang dan malam mereka berjaga. Warga sekitar hidup tenteram karena merasa dilindungi oleh para prajurit tersebut.

Namun, waktu terus berjalan., beberapa bulan kemudian, datanglah rombongan pasukan berslempang merah. Slempang merah melambangkan keberanian dan ketegasan. Mereka membawa titah kerajaan yang berbeda: mengambil dan memindahkan harta yang disimpan di wilayah itu ke pusat kerajaan. Pertemuan dua pasukan ini menjadi awal dari ketegangan.

Pasukan kuning menolak menyerahkan harta karena merasa belum menerima perintah resmi untuk melepas amanah. Sementara pasukan merah bersikeras bahwa mereka membawa titah langsung dari istana. Perdebatan pun tak terelakkan. Kata-kata berubah menjadi bentakan. Bentakan berubah menjadi dorongan. Hingga akhirnya, emosi memuncak dan perang pun pecah di pinggiran sungai.

Langit yang semula cerah berubah kelam oleh debu dan asap peperangan. Denting senjata beradu, teriakan memenuhi udara. Banyak prajurit dari kedua belah pihak gugur. Sungai yang biasanya jernih menjadi saksi bisu pertumpahan darah.

Melihat kekacauan itu, datanglah seorang resi bijaksana bernama Purba Wasesa. Resi tersebut dikenal sebagai pertapa sakti yang hidup dalam kesederhanaan di hutan sekitar wilayah itu. Ia memiliki kewibawaan dan kebijaksanaan yang dihormati oleh berbagai kalangan. Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, ia berdiri di antara dua pasukan yang sedang bertempur. Konon, hanya dengan mengangkat tangan dan melafalkan doa, angin berhembus kencang memisahkan kedua belah pihak. Suasana hening menyelimuti medan perang.

Resi Purba Wasesa kemudian berkata:

“Kalian berperang bukan karena kejahatan, tetapi karena perbedaan titah yang tidak dipahami dengan bijaksana. Harta hanyalah titipan. Persaudaraan dan kedamaianlah yang abadi.”

Kedua pasukan pun tersadar. Mereka menundukkan kepala, menyadari banyak nyawa telah melayang sia-sia. Melalui musyawarah yang dipimpin sang resi, diputuskan bahwa harta tersebut akan dibagi sesuai keperluan kerajaan dan kesejahteraan rakyat setempat. Amanah dijalankan tanpa pertumpahan darah. Sebagai pengingat atas peristiwa besar itu, Resi Purba Wasesa memberikan titah:

“Tempat ini akan dikenal sebagai Purbadana.”

Nama itu berasal dari kata Purba (asal mula atau yang terdahulu) dan Dana (pemberian atau harta). Maknanya adalah tempat awal mula sebuah pelajaran tentang amanah, pengorbanan, dan kebijaksanaan dalam mengelola harta.  Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Desa Purbadana, tanah yang lahir dari konflik, tetapi tumbuh dalam kedamaian dan kebersamaan. Dan hingga kini, sungai di pinggiran desa seakan masih berbisik, mengingatkan generasi penerus bahwa perselisihan hanya dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan, bukan dengan senjata.

Legenda Astana Dawa

Pada zaman jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, Purbadana telah ada namun penduduknya kala itu masih belum mengenal agama dengan baik. Mereka memang telah mempunyai keyakinan tapi kebanyakan keyakinan yang sekarang kita kenal sebagai ajaran kapitayan. Kapitayan itu bukan hindu bukan budha apalagi kristen. Itu keyakinan asli penduduk jawa khususnya. Pada masa itu era sekitar tahun 1830 an perang Diponegoro berakhir dengan dijebaknya beliau oleh belanda di magelang. Dengan tertangkapnya pangeran Diponegoro pengikutnya terpencar-pencar ke segala arah. Mereka memencar untuk menghindari kejaran tentara belanda dan juga tentara kerajaan surakarta dan jogjakarta yang pro belanda. Diantara tentara Diponegoro yang terdeteksi keberadaannya makamnya ada di Cilongok, di kuthaliman, jombor, pageraji, banjaranyar, dawuhan, kejawar, keturunannya ada yang di ledug, kedungparuk, sokaraja dan lain-lainnya. Syekh Abdul Malik adalah salah satu keturunan tentara Diponegoro yang melarikan diri ke arah Banyumas.

Diantara pengikut pangeran Diponegoro ada yang mesanggrah di purbadana (sayang namanya tidak kuketahui) yang kita kenal sekarang sebagai brubahan. Jumlahnya tidak hanya satu tapi beberapa orang. Sebagaimana umumnya orang jaman dulu yang punya ilmu agama, mereka punya tanggung jawab untuk mendakwahkan ilmunya dimanapun berada, walaupun mungkin ilmu agamanya masih pas-pasan. Mereka yang mesanggrah disitu juga berdakwah di daerah tersebut, membuat semacam padepokan yang digunakan sebagai pusat kegiatan agama. Sedikit demi sedikit merubah kebiasaan penduduk yang kala itu masih awam agama untuk dikenalkan dengan agama Islam.

Keberadaan mereka disitu dirahasiakan dalam penyamaran karena untuk menghindari mata-mata penjajah atau mereka yang kontra dengan pangeran diponegoro. Tapi mereka mengikatkan diri atau menjalin hubungan dengan pasirluhur yang waktu itu sudah dibawah kekuasaan islam. Beberapa lama mereka menikmati kedamaian di daerah tersebut. Mereka menyebut daerah itu astana maknanya sebuah tempat yang letaknya lebih tinggi dibanding sekelilingnya. Karena bentuknya yang memanjang maka disebutlah astana dawa. Tapi dawa disini maknanya tidak hanya panjang melainkan bisa berarti obat, kalau tidak salah dawa’ artinya obat, karena sejak mesanggrahnya sebagian pengikut Pangeran Diponegor disitu mereka dikenal pandai mengobati orang sakait. Jadi astana dawa punya makna dua sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya yang berukuran panjang dan sebuah tempat yang lebih tinggi dibanding lingkungannya dan merupakan tempat berobat. Di kamus bahasa banyumas tak ada istilah astana, astana adalah kosa kata kalangan keraton yang dibawa oleh sebagian pengikut pangeran Diponegoro.

Sepandai-pandai menyimpan rahasia, keberadaan mereka akhirnya diketahui oleh telik sandi belanda. Singkatnya karena dianggap membahayakan maka dikirimlah tentara gabungan belanda dengan yogyakarta untuk menghancurkan sisa-sisa pengikut Diponegoro tersebut.

Perang terjadi secara berhadap-hadapan langsung dan sebagian besar penghuni astana itu tewas. Yang selamat melarikan diri cerai berai ke segala arah. Mereka yang meninggal dalam perang skala kecil tersebut dimakamkan di sekitar komplek astana dawa. Dalam keadaan gawat tak terpikirkan oleh mereka untuk memberi nisan pada kuburan mereka, hanya batu-batu yang dijadikan tanda bahwa itu adalah kuburan. Senjata-senjata mereka juga ikut dikuburkan disekitar astana oleh mereka yang selamat.

Makanya tempo dulu ketika perjuangan bersenjata era mempertahankan kemerdekaan tidak sedikit lasykar perjuangan yang mencari keberadaan senjata-sanjata piandel disitu. Termasuk dikuburan timur sungai nariban. Bagi yang ingin tahu sebagian diantara lasykar itu adalah tokoh banyumas yang dikenal dengan nama Pujadi Jaring Bandayuda,.

Perang berhadap-hadapan satu lawan satu, atau satu melawan sepasukan tentara dalam istilah kemiliteran keraton dikenal dengan nama Perang Brubuh, perang brubuh yang habis-habisan dalam bahasa militer kraton disebut perang brubuhan. dari kata brubuhan ini lama-lama karena lebih mudah menyebut a dari pada u maka lama-lama berubah menjadi brubahan. Sementara astana dawa juga bergeser sedikit ejaannya menjadi stanadawa.

Jika dimasa sekarang ada penduduk yang menganggap stanadawa adalah petilasan maka itu ada benarnya karena dulu disitu berdiri sebuah astana, reruntuhannya bisa dilihat sisa-sisanya walau kebanyakan bahan pondasinya sudah diambili untuk bahan bangunan entah oleh siapa. Demikian pula jika dianggap kuburan maka ada benarnya juga, karena disitu dikuburkan mereka yang meninggal dalam perang brubuh di kedua kubu yang bertikai

Desa Purbadana sampai sekarang sudah di Kepalai oleh 8 Kepala Desa.

Adapun lebih jelasnya lihat keterangan dibawah ini  :

 

NO

Nama Kepala Desa

Tahun

Keterangan

1.

Dipa Wirya

 

Penatus pertama

2.

Reksa Dipa

 

Penatus Kedua

3.

Arsa Diwirya

 

Penatus Ketiga

4.

Abdul Madjid

1956 s/d 1988

 

5.

Bejo Soecipto

1988 s/d 1991

 

6.

Amrullah

1993 s/d 2001

 

7.

Pujiono

2001 s/d 2007

 

8.

Warsito

2007 s/d 2027

 



Tulis Komentar